Rabu, 16 Februari 2011

Polisi Bodohi Masyarakat?

Sabtu, 5 Februari 2011 saya melakukan perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta. Ketika perjalanan sampai di daerah Secang, Kabupaten Magelang ada pemeriksaan kendaraan sepeda motor oleh petugas lalu lintas Polres Magelang. Saya berhenti dan segera menunjukkan SIM dan STNK. Saya mengira pemeriksaan selesai, namun tiba-tiba petugas tersebut menghidupkan lampu utama motor saya yang memang pada saat itu dalam posisi off sambil mengatakan, nah ini dia lampu tidak dinyalakan. Akhirnya saya pun ditilang. Sesuai dengan Pasal 293 Ayat 2 UU No.22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas, bahwa pelanggaran tersebut dikenakan denda paling banyak Rp100.000,00. Pada waktu itu, petugas (Sdr. Suntari) menanyakan apakah saya akan mengikuti sidang di pengadilan negeri kota Mungkid tanggal 17 mendatang ataukah mau nitip. Saya ingin mengetahui lebih jauh, dengan menanyakan kalau nitip berapa dan apakah ada tanda terimanya? Petugas tersebut menjawab, kalau nitip Rp35.000,00 dan tidak ada tanda terimanya, karena tanda terima atau surat tilang diberikan kalau pengendara mengikuti proses persidangan. Ada dua pertanyaan yang mengganjal di hati saya saat itu. Pertama, kalau demikian halnya, apakah bisa dipastikan uang tersebut tetap masuk ke negara? Bagaimana mekanisme pertanggung jawaban petugas tersebut? Atas dasar apa besaran nominal Rp35.000,00 tersebut (memang undang-undang mengatakan paling besar Rp100.000,00). Kedua, tidak semua kendaraan roda dua diberhentikan untuk diperiksa oleh petugas, bahkan banyak yang tidak menyalakan lampu utama. Kalau memang pemeriksaan, seharusnya semua wajib diberhentikan dan diperiksa. Ketiga, petugas dimaksud terkesan mencari-cari kesalahan setelah surat kelengkapan kendaraan motor saya terbukti lengkap. Apakah memang masih banyak petugas yang bermental demikian. Kalau demikian halnya, kapan kepolisian kita akan lebih profesional?. 

                                                                      Polisi menilang "pelanggar" lalu lintas.

Jumat, 21 Januari 2011

Salah Menilai

Jumat pagi, seperti biasa di kebanyakan kantor pemerintahan diselenggarakan acara senam kesehatan jasmani (SKJ) entah yang seri ke berapa...(jadi ingat waktu jaman SD dulu ada SKJ 86,88,90 dst). Walaupun sifatnya dihimbau dengan sukarela, ternyata yang berpartisipasi ya muka-muka itu aja. Atas dasar kondisi tersebut, panitia berinisiatif memberikan tawaran hadiah menarik buat peserta yang paling bersemangat dalam senam tersebut.
Alhasil, sebut saja Paijo salah satu karyawan tersebut, berinisiatif merebut piala yang dijanjikan oleh panitia. Untuk menyemarakkan semangatnya, pagi-pagi sebelum jam senam dimulai, dia sudah siap-siap di lapangan. Akhirnya, tepat pukul 06.30 WIB senam pun dimulai. Untuk memudahkan memberikan penilaian, setiap peserta di berikan nomor urut. Iringan musik disertai teriakan instruktur membuat semangat seluruh peserta  termasuk Paijo. Dia merasa pasti menang, karena biasanya tidak sesemangat seperti ini.
Jarum jam menunjukkan angka 07.30 WIB, pertanda lomba senam tersebut diakhiri dan akan diumumkan pemenangnya. Diambillah 4 peserta terbaik mulai dari juara harapan. Paijo pun tetap menunggu dengan setia. Juara harapan, ketiga, kedua sudah disebutkan. Tinggal juara pertamanya. Paijo tetap diam membisu, berharap namanyalah yang akan disebut oleh pembawa acara. Ketika juara pertama yang disebutkan ternyata bukan namanya, akhirnya Paijo bilang ke kawan di dekatnya. Payah nian nih juri, pantesan aku gak juara padahal udah semangat 45 gini. Jurinya gak adil nih, ternyata dia menilai dari belakang lapangan, sementara nomor urutku aku pasang di depan. Yah gak kelihatanlah jadinya. Kawan di sampingnya hanya tersenyum, dasar orang Indonesia nih..,

Sabtu, 15 Januari 2011

Guru di Daerah Pedalaman : Realitas dan Mimpi.

Seorang guru keluar masuk hutan demi mengajar anak-anak di daerah pedalaman

Demi mengejar idealitas dan mencerdaskan kehidupan bangsa, banyak pendidik yang harus berjuang melewati medan yang penuh resiko di daerah pedalaman. Dengan fasilitas yang kurang mencukupi, mereka tetap konsisten untuk terus berjuang. Benar juga ungkapan yang mengatakan mereka bagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Pak guru menempuh perjalanan di medan off road...Harusnya nanti bisa daftar kejuaraan Pak....

Senin, 06 Desember 2010

Memotret Wajah Manusia Indonesia Masa Kini

Ceramah budaya Mukhtar Lubis pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki dengan judul “ Manusia Indonesia” sangat relevan dengan masa kini. Dalam perspektif waktu, sepanjang tahun 1977 sampai dengan saat ini, tak ada perubahan yang mendasar terkait dengan manusia-manusia Indonesia. Dalam perspektif budaya, apa yang dimaksudkan sebagai manusia Indonesia oleh Mukhtar Lubis tersebut sudah menjadi bagian darah daging dan karakter yang sulit diubah. Padahal kalau kita mau “sedikit” menengok kepada tetangga sebelah Singapura, Malaysia dan kini Vietnam telah jauh bergerak sementara start kemerdekaan Indonesia lebih dulu daripada tetangga tersebut. Akankah terjadi perubahan mendasar, sehingga akan menciptakan manusia Indonesia yang lebih bermartabat kembali untuk membangun sebuah peradaban, ataukah semakin terseok-seok dengan banyaknya manusia Indonesia yang dianggap “budak” oleh sebagian besar pemakai jasa tenaga kerja Indonesia?
Pada ceramah buadaya tersebut, Mukhtar Lubis mengemukakan adanya lima ciri manusia Indonesia, yakni :
<!--[if !supportLists]-->1.        Munafik atau hipokrisi. Anda tahu yang namanya Bunglon? Hewan tersebut mampu berganti warna kulit menyesuaikan dengan lingkungannya untuk menyelamatkan diri. Seperti itulah perilaku manusia Indonesia, di depan umum kita mengecam perilaku korup, namun dibelakang atau kalau ada kesempatan yang memungkinkan ternyata melakukannya juga. Di luar sistem berteriak lantang sebagai pendekar anti korupsi, namun ketika sudah berada dalam sistem, ternyata ikut terhanyut. Lihatlah, betapa banyak akademisi Indonesia dan pegiat anti korupsi, namun akhirnya terbawa arus juga. Kemunafikan manusia Indonesia ini juga terwujud dalam sikap Asal Bapak Senang (ABS) yang banyak terjadi di kantor birokrasi kita. Bahkan tak jarang, berusaha untuk mencari muka demi menjilat ludah sendiri.
<!--[if !supportLists]-->2.         <!--[endif]-->Enggan dan tidak mau bertanggung jawan atas perbuatannya sendiri. Sudah menjadi prinsip berjama’ah bila terjadi terjadi kesalahan, lantas manusia Indonesia ini mencari kambing hitam.  Atasan tidak mau disalahkan dan menggeser kesalahan tersebut kepada bawahan. Seorang atasan adalah seorang pempimpin yang bertanggung jawab atas kesalahan dirinya maupun timnya sesuai dengan porsinya masing-masing. Perilaku kasat mata ini terlihat dengan jelas saat SBY menyatakan bahwa masyarakat Jogja salah memahami apa yang dimaksudkannya tentang monarkhi Jogjakarta. Jangan salah Bung, kalau hanya satu dua orang yang salah memahami sebuah pernyataan itu wajar, tetapi justru semua orang yang mendengar pernyataan Bung SBY tersebut memiliki persepsi yang sama. Sudahlah, dengan berbesar hati, akuilah kesalahan tersebut, pasti rakyat akan memaafkannya.
<!--[if !supportLists]-->3.        Berjiwa Feodal. Sikap ini menunjukkan bahwa seorang atasan tak pernah salah sehingga harus dijunjung tinggi. Masyarakat Indonesia terlanjur terikat secara patternalistik, sementara atasan membutuhkan pengakuan kedudukan dan kewibawaannya dalam panggung sosial. Banyaknya kegiatan upacara yang dilakukan kantor birokrat menumbuhsuburkan sikap ini. Kalau kita mau berpikir panjang dan jujur, adakah relevansi hari pahlawan dan kesaktian pancasila itu dengan sikap nasionalisme? Jiwa feodal ini juga menyebabkan atasan tidak mau dikritik, kalau salah pun gengsi dan tidak mau mengakui kesalahannya.
<!--[if !supportLists]-->4.     <!--[endif]-->Masih percaya dengan takhayul. Manusia lebih berkuasa daripada benda-benda mati semisal keris, batu besar, pohon yang rimbun dan lain sebagainya. Namun karena dihantui oleh kekhawatiran akan adanya sang “penunggu” perlu diberikan perlakuan khusus terhadap benda-benda tersebut. Saat ini, budaya takhayul ini diwujudkan dalam jargon-jargon kampanye seorang calon presiden, anggota legislatif dan kepala daerah. Jargon tersebut dianggap ampuh untuk menyihir masyarakat dengan menyulap dirinya menjadi seorang malaikat suci. Saat terpilih, tertawalah mereka karena berhasil menipu masyarakat dengan suplanya tersebut yang terbungkus dalam ketakhayulan politik.
<!--[if !supportLists]-->5.        Boros, suka berpesta dan tidak berhemat. Walaupun sikap ini bukan monopoli masyarkat Indonesia seperti apa yang tergambar dalam bocoran situs wikileaks baru-baru ini, bahwa Berlusconi, sang PM Italia digambarkan sebagai manusia lemah yang suka pesta dan wanita. Namun, secara umum sikap ini menjadi milik manusia Indonesia. Kalau bisa, tanpa bekerja keras dan cerdas, kekayaan bisa datang sendiri. Ingin cepat naik pangkat, kita membeli gelar. Adakah sebuah kebanggaan dengan gelar panjang namun dalam hati kecil perasaan bersalah tetap menghantui. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, banyak menggerutu, cepat dengki, suka pada hal-hal yang hampa termasuk bermalas-malasan akibat kemurahan alam kita selama ini.
Namun selain mengemukakan sifat yang buruk, Mukhtar lubis juga menegasakan bahwa manusia Indonesia memiliki jiwa artistik dan ikatan tolong menolong yang kuat, lembut dan suka hidup damai serta selera humor yang tinggi.  Selain sifat-sifat tersebut di atas, manusia Indonesia juga masih memiliki sifat pelupa dan pemaaf baik dalam artian positif maupun negatif. Dalam artian positif, dengan sikap pelupa dan pemaaf tersebut, kita akan cepat melupakan penderitaan dan bencana alam yang menimpa kita sehingga kita segera bangkit kembali. Ketika seorang calon presiden terpilih dengan janji memberantas korupsi dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat, namun pada akhirnya dia mengkhianati apa yang menjadi kontrak politiknya dengan rakyat sebelum terpilih. Namun kita ikut lupa juga dengan janji-janji sang calon tersebut dan melupakannya. Demikian pula dengan sikap pemaaf, seorang calon kepala daerah yang cacat moral dan hukum pun tetap bisa terpilih menjadi kepala daerah atau ketua organisasi olahraga tertentu.

Mengembangkan Manusia Indonesia yang berkarakter
Karakter memang sulit diubah, namun bukan berarti tidak bisa diubah sama sekali. Anda masih ingat cerita Ibnu Hajar dengan batu keras yang akhirnya luluh juga dengan tetesan air hujan. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan keyakinan diri untuk berubah baik secara personal maupun kultural kemasyarakatan kita. Kalau kita mengatakan, bahwa hal tersebut sudah mebjadi karakter yang tidak bisa diubah, maka pernyataan tersebut terasa dangkal. Namun memang semua perlu proses dan waktu yang mau tidak mau harus direncanakan mulai saat ini. Nilai kemanusiaan kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan dengan sikap sikap negatif tersebut. Sudah selayaknya kita dan birokrat negara ini mempunyai konsep kemnusiaan Indonesia yang dibangun melalui pendidikan untuk menciptakan manusia-manusia yang beradab. Tak perlu terdoktrin dengan pendidikan Pancasila, Kewarganegaraan, PMP, budi pekerti dan lain sebagainya. Semoga ke depan, akan terbentuk manusia-manusia Indonesia yang lebih baik. (tulisan ini hanya bermaksud untuk membangun diskursus yang lebih konstruktif bukan dalam rangka menelanjangi).

Hikmah Dibalik Gerutuan

Sabtu (4/12) menjadi  salah satu hari yang cukup kelabu bagi saya. Betapa tidak. Ketika dalam perjalanan ke Jogjakarta, sepanjang jalan dari Kaliwiru Semarang sampai dengan Ambarawa banyak titik kemacetan. Bukan hanya karena angkutan umum yang sembarang ngetem, namun juga bertepatan dengan karyawan pabrik yang pulang kerja. Sebenarnya saya sendiri yang salah, mengambil jam yang kurang tepat, namun karena didorong oleh keinginan luhur agar cepat sampai ke Jogja, maka hati kecil ini menggerutu sepanjang jalan.
Pukul 17.00 WIB, kemacetan abadi di Ambarawa telah berhasil saya lalui. Gerimis pun mulai turun, sehingga mengaburkan pandangan jalan. Tapi tak apa. The Show must go on, kata orang. Wah, kalau udah mau sampai Bedono tempatnya Syaikh Puji, paling tidak sudah lebih dari seperempat perjalanan saya lalui.
Ternyata kenyataan berbicara lain, ketika saya mau melewati sebuah tikungan tiba-tiba saya tergelincir dan langsung jatuh di aspal. Untunglah, banyak orang yang menolong saya. Dengan cekatan mereka meminggirkan motor, bahkan ada ibu-ibu yang memberikan segelas minuman teh hangat. Alhamdulillah. Tak jauh dari situ, seorang pria mengalami luka-luka di kaki dan tangannya. Lelaki tersebut juga jatuh persis di depan saya. Setelah itu, hanya dalam hitungan 5 menit, tiga motor lagi juga mengalami hal yang sama. Setelah dilakukan pengecekan oleh warga, terdapat tumpahan oli bekas di aspal jalan tersebut. Wah pantas saja.
Setelah menghabiskan segelas minuman teh hangat dari ibu tadi, saya langsung mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah karena sakit saya tidak separah dengan korban laninnya. Akhirnya setelah saya ingat-ingat juga, mungkin ini hikmah dari gerutuan saya sepanjang perjalanan tadi. Apapun itu, nikmati saja dan selalu ingat dengan Allah. Pasti hasilnya akan jauh lebih baik. Toh dengan menggerutu juga tidak menyelesaikan masalah. Seperti yang dikatakan Bunda Theresa, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Terlebih di awal tahun baru Hijriah ini, saatnya melakukan muhasabah agar bisa lebih baik lagi.

Minggu, 05 Desember 2010

Lahar Dingin Meluap, Jalan Jogja Magelang Macet Total


Hujan deras mengguyur wilayah Magelang dan sekitarnya pada hari minggu (5/12). Hujan membawa material lahar dingin yang menyebabkan aliran Kali Putih tak mampu lagi menampungnya sehingga meluap ke Jalan Jogja Magelang sepanjang 100 m dengan tinggi setengah meter. Jalan dari kedua arah dialihkan melalui jalur Kalibawang Kulon Progo. Namun demikian, banyak warga yang terlanjur melintas sehingga menyebabkan kemacetan panjang hingga mencapai  lebih dari 5 km.
Situasi demikian banyak dimanfaatkan oleh warga untuk mengabadikan kemacetan dan aliran lahar dingin yang begitu keruh. Pukul 16.00 WIB jalur dari arah Magelang dibuka perlahan-lahan.  Namun jalur dari arah Jogja sampai dengan 20 menit berlalu belum dibuka. Situasi ini menyebabkan suasana sedikit ricuh dengan ditimpali suara klakson dan suara bising knalpot sepeda motor sambil berteriak-teriak agar jalur dari arah Jogja juga segera dibuka. Pukul 16.30 WIB, jalur Jogja Magelang sudah normal kembali setelah tiga alat berat dikerahkan. 

Jumat, 03 Desember 2010

Menangislah Kalau Perlu

Menangis pada masa kanak-kanak memang menjadi hal yang lumrah. Menangis pada masa itu merupakan pertanda si kecil meminta sesuatu atau bisa juga karena sesuatu permintaan yang tidak dituruti oleh orang tuanya. Seiring dengan perkembangan sang waktu hingga menapaki usia kedewasaan diri, apakah menangis itu masih hal yang lumrah terjadi.
Bagi Anda yang sering melihat tayangan di salah satu televisi swasta “Jika Aku Menjadi” mungkin akan ada rasa keharuan tersendiri. Bagaimana orang-orang kecil berjuang untuk dapat hidup dan mengejar kehidupan bagi diri dan keluarganya tanpa bantuan dari orang lain apalagi pemerintah.  Orang-orang ini yang sering dalam angka statistika dimasukkan dalam hidup di bawah garis kemiskinan atau secara sosiologis termasuk dalam kamu marjinal, namun memiliki semangat hidup yang luar biasa di balik keterbatasannya.  Mereka menjalani hidup ini dengan tulus. Ketika di akhir acara, ada kejutan berupa modal ternak (kambing, sapi, ayam dsb), sungguh hati ini menjadi miris dengan ikut merasakan keharuan dan hampir air bening mengalir dari pulupuk mata ini.
Mungkin di antara Anda ada yang pernah melewati jalan Siranda Semarang Jawa Tengah. Di putaran jalan sebelum Siranda, ada seorang kakek berusia 85 tahun lebih. Dengan kondisi fisiknya yang sudah renta, tetapi kakek ini tetap bekerja keras dengan jasa perbaikan sepatu. Bahkan dia melakukan ini semua tanpa dibantu kaca mata. Pernah masuk dalam reality show salah satu tv swasta, betapa tulusnya sang kakek membantu orang yang tidak mampu membayar jasa perbaikan sepatu.
Di kala ingat orang-orang terdekat kita, yang sudah membantu dan mendukung hidup ini betapa keterharuan itu muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Mereka membantu dengan tulus tanpa pamirih apapun. satu per satu orang ini pergi meninggalkan kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Bahkan mungkin ada sebagian kita belum bisa berbakti kepada orang tersebut.
Ketika malam telah larut, pagi mulai menghampiri  dengan diiringi detak jam di angka 3, kesempatan besar untuk menata hati, mengambil air wudhu, mendekatkan pada Ilahi. Betapa banyak karunia yang telah diberikannya kepada kita.. Tak terasa, bulir-bulir bening mengalir di pipi. Bukan cengeng, bukan pula karena meminta sesuatu atau ditolaknya sesuatu, namun karena rasa syukur yang mendalam atas semua karuniaNya.
Hari masih pagi dan jalan masih panjang. Memulai dengan semangat yang lebih baik dari hari kemarin.